Pembelajaran Daring di Tengah Karhutla: Ketika Teknologi Membantu Pembelajaran Tetap Bermakna

Singkawang, 24 Agustus 2026 – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kota Singkawang. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara memburuk hingga berada pada tingkat tidak sehat.

Karena kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar tidak memungkinkan untuk dilakukan secara tatap muka. Sesuai dengan kebijakan Dinas Pendidikan, hampir seluruh siswa di Kota Singkawang melaksanakan pembelajaran daring. Salah satunya adalah siswa Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang.

Keputusan ini diambil bukan sekadar untuk memindahkan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah. Sebaliknya, pembelajaran daring menjadi bentuk cinta kasih dan kepedulian Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang. Hal tersebut dilakukan demi menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh siswa.

Guru Beradaptasi dengan Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring memiliki metode pengajaran yang berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Oleh karena itu, guru perlu beradaptasi dengan metode yang sesuai, kreatif, dan penuh inovasi.

Dengan demikian, proses belajar mengajar tetap dapat berlangsung secara bermakna dan kondusif. Meskipun ruang belajar menjadi terbatas, guru tetap mengedepankan interaksi dengan siswa.

Selain menyampaikan materi, guru memberikan pertanyaan, mengadakan diskusi, serta memberikan tugas kepada siswa. Semangat untuk terus belajar juga tetap ditanamkan.

Kondisi yang tidak biasa ini justru menjadi kesempatan bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.

Ls. Mario melaksanakan pembelajaran Bahasa Mandarin secara daring melalui Google Meet

Memanfaatkan Teknologi untuk Mendukung Pembelajaran

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran daring membutuhkan motivasi yang lebih besar dibandingkan pembelajaran tatap muka. Hal ini disebabkan oleh kurangnya interaksi secara langsung antara guru dan siswa maupun antarsiswa.

Selain itu, siswa dapat lebih mudah terdistraksi oleh berbagai media digital lainnya. Media tersebut dapat diakses ketika siswa sedang mengikuti meeting secara daring.

Di SMP Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang, guru menggunakan aplikasi Google Meet untuk melaksanakan pembelajaran. Penggunaan aplikasi tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi lain, seperti PID (Papan Interaktif Digital).

Teknologi tersebut membantu guru menyampaikan materi dengan lebih interaktif. Siswa juga dapat mengikuti proses pembelajaran dengan lebih aktif.

Ms. Ressa menggunakan PID dalam pembelajaran daring Matematika materi Relasi dan Fungsi untuk siswa kelas 8

Pembelajaran Lebih Menyenangkan dengan Game Edukatif

Selain menggunakan Google Meet dan PID, materi pembelajaran juga dapat dipadukan dengan berbagai game edukatif. Beberapa aplikasi yang dapat digunakan antara lain Blooket, Wayground, dan Kahoot.

Penggunaan aplikasi dalam bentuk kuis membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, siswa menjadi lebih termotivasi untuk menyelesaikan soal karena adanya skor dan papan peringkat.

Tidak hanya melalui kuis, siswa juga dapat memanfaatkan aplikasi Canva. Salah satunya untuk membuat poster digital sebagai bagian dari kampanye penggunaan masker.

Contoh Poster digital hasil karya siswa di mata Pelajaran KKA

Teknologi Menjaga Interaksi Guru dan Siswa

Di tengah keterbatasan pembelajaran tatap muka akibat kabut asap, teknologi menjadi salah satu jembatan antara guru dan siswa. Dengan bantuan teknologi, proses pembelajaran tetap dapat berlangsung secara interaktif dan bermakna.

Bagi guru, aktivitas tersebut juga menjadi sarana untuk melihat pemahaman siswa secara langsung. Dengan demikian, guru dapat tetap memantau perkembangan belajar sekaligus menjaga semangat siswa selama belajar dari rumah.

Kegiatan Quiz Blooket di kelas 8 mata pelajaran KKA

Kegiatan siswa kelas 7 saat proses belajar daring mata pelajaran KKA

Harapan Guru untuk Pembelajaran yang Lebih Optimal

Sir Nashrul, salah satu guru di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang, menyampaikan bahwa pembelajaran daring selama karhutla mengingatkannya pada masa pandemi Covid-19.

Sebagai guru Sains, ia mengajarkan materi yang tidak hanya berkaitan dengan literasi, tetapi juga numerasi. Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang mendukung pembelajaran daring agar materi dapat tersampaikan secara optimal.

Salah satunya adalah ketersediaan device yang memadai. Selain itu, jaringan internet yang stabil juga sangat diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran.

Ia juga menyampaikan harapannya terhadap kondisi saat ini.

“Harapan saya ke depannya kondisi bisa kembali stabil dan normal sehingga siswa-siswi bisa kembali ke sekolah untuk mendapatkan pembelajaran yang optimal sebagaimana mestinya.”

Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan

Kabut asap mungkin membatasi ruang gerak, tetapi tidak dapat membatasi semangat untuk belajar dan berbagi.

Oleh karena itu, di mana pun pembelajaran berlangsung, pendidikan akan selalu menemukan jalannya. Selama terdapat kepedulian, kreativitas, dan semangat untuk terus belajar, proses pendidikan tetap dapat berlangsung.

Add your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *