Peran Pembelajaran Coding di Tingkat Sekolah Dasar dalam Membangun Critical Thinking dan Problem Solving

Memanfaatkan Scratch untuk pembelajaran coding di kelas

“Apakah dengan belajar coding siswa tingkat SD dapat membuat aplikasi canggih?”

Asumsi publik masih menganggap belajar coding berarti belajar untuk membuat aplikasi seperti yang dilakukan di perusahaan-perusahaan IT. Memang tidak salah, karena aplikasi tersebut dibuat dengan coding, namun proses yang dipelajari dan diimplementasi lebih kompleks dan menggabungkan cabang-cabang keilmuan lain.

Analoginya, coding itu seperti menulis atau membaca. Bukan berarti ketika sudah belajar menulis huruf atau membaca, anak-anak sudah langsung dapat membuat puisi, novel, ataupun karya sastra lainnya. Seperti itu pula coding; anak-anak tidak langsung diminta untuk terbang ketika baru belajar merangkak.

Coding sendiri merupakan cara kita memberikan instruksi atau perintah ke komputer dengan melibatkan logika, pemecahan masalah, kreativitas, dengan bahasa khusus yang disebut bahasa pemrograman. Contoh bahasa pemrograman seperti Java, C++, Python, dan bahasa pemrograman visual seperti Scratch atau Blockly.

“Lalu apa manfaat belajar coding di tingkat sekolah dasar?”

Saya teringat kembali ke tahun 2016, ketika masih awal bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di pendidikan nonformal yang mengajari coding ke anak-anak, ada empat poin penting yang ditekankan ketika mengajar di sana: Komunikasi, Kolaborasi, Kreativitas, dan Berpikir Kritis (Communication, Collaboration, Creativity, and Critical Thinking) dan Berpikir Komputasional (Computational Thinking). Ketika belajar coding, poin-poin tersebut sangat ditekankan untuk mencapai satu tujuan, yaitu Pemecahan Masalah (Problem Solving).

“Bagaimana jika di sekolah dasar?” Di tingkat sekolah dasar sampai menengah, belajar coding tetap sangat bermanfaat khususnya dalam berpikir kritis dan pemecahan masalah, terlebih dengan menambahkan 4 pilar berpikir komputasional, yaitu Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma.

Berpikir komputasional merupakan pendekatan pemecahan masalah dengan cara sistematis dan logis, serta merupakan pendekatan yang umum di ilmu komputer. Dengan dekomposisi, kita memecah masalah kompleks menjadi lebih kecil dan mudah dikelola. Pengenalan pola berfungsi untuk mengidentifikasi kesamaan masalah dengan masalah yang berbeda. Abstraksi bertujuan untuk berfokus pada informasi atau masalah yang penting dan mengabaikan detail yang tidak relevan. Dan terakhir, algoritma digunakan untuk membuat serangkaian langkah atau aturan yang jelas untuk memecahkan masalah.

“Bagaimana implementasi pembelajar coding di tingkat sekolah dasar?”

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, coding melibatkan logika, pemecahan masalah, kreativitas, dan bahasa pemrograman. Tentu saja, di tingkat sekolah dasar, kita sudah dapat melibatkan semua aspek itu. Mari kita jabarkan dari tiap fase.

  1. Fase A
    Di Fase A, peserta didik dikenalkan dengan sequence (urutan) dan pemecahan masalah sangat sederhana, untuk bahasa pemrogramannya, peserta didik cukup mengenal simbol-simbol untuk membuat perintah dasar dalam pemecahan masalah dan dapat menyusunnya dalam urutan yang benar.
Contoh LKPD unplugged coding sebagai pengenalan konsep awal sequence dan pola ke peserta didik fase A
  1. Fase B
    Di Fase B, peserta didik sudah dikenalkan dengan bahasa pemrograman visual seperti Scratch atau Blockly. Di sini, peserta didik dengan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah mereka dapat membuat berbagai proyek kreatif yang melibatkan karakter, background, dan suara. Tentu saja, diperlukan coding untuk memerintah aplikasi tersebut agar berinteraksi dengan karakter-karakter yang ada.
Menyusun perintah dengan blok-blok kode di Scratch
  1. Fase C
    Terakhir, di Fase C, peserta didik dapat didorong untuk menciptakan proyek-proyek Scratch dengan level di atas Fase B. Peserta didik akan didorong untuk mengenal struktur data dan operasi logika yang lebih kompleks. Apabila sudah mencapai kompetensinya, kita dapat mendorong peserta didik untuk mengenal dan mencoba bahasa pemrograman berbasis teks dengan metode gamifikasi, di mana sudah sangat banyak platform yang mendukung dan menyediakan pembelajaran coding berbasis gamifikasi.

Penutup

Dengan didorongnya coding dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, sangat diharapkan tujuan dari coding ini dapat tercapai secara maksimal. Tentunya perlu dukungan penuh dari pemerintah, kementerian, orangtua, dan sekolah, terutama yang sudah dilaksanakan di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang, karena coding bukan hanya tentang kebutuhan dan kemampuan digitalisasi, tetapi juga sebagai dasar berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Add your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *