Mengenal Etika dan Rasa Syukur Melalui Kelas Saji Teh

Secangkir teh sederhana dapat menjadi pelajaran berharga. Inilah yang tampak dalam kegiatan kelas saji teh anak-anak TK Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang. Pada term pertama tahun ajaran 2025/2026, melalui kelas Budaya Humanis ren wen(人文), para siswa/i kelas TK A dan TK B mengikuti kegiatan kelas saji teh. Kegiatan sederhana ini penuh dengan makna, karena mengajarkan nilai syukur, menghormati, serta cinta kasih kepada sesama.

Anak-anak berbaris dengan tertib sebelum memasuki kelas, melatih disiplin, kesabaran,dan sikap saling menghormati.
Dengan bimbingan guru, siswa mencuci tangan sebagai simbol hati yang bersih sebelum memulai kegiatan belajar.

Sebelum memasuki kelas, anak-anak diajak untuk melepas sepatu lalu menyusunnya di rak dengan tertib dan bergiliran. Melalui langkah kecil ini, siswa dapat belajar untuk disiplin, saling menghormati, serta menjaga keteraturan. Setelah itu, anak-anak mencuci tangan terlebih dahulu. Guru mengingatkan bahwa tangan yang bersih adalah simbol hati yang bersih, sehingga setiap kegiatan dimulai dengan kesadaran dan ketulusan.

Di dalam kelas budaya humanis, anak-anak duduk dengan tenang dan melakukan silent sitting. Anak-anak diajak untuk duduk hening sejenak, menenangkan pikiran dan hati, agar siap menerima pelajaran dengan penuh kesadaran. Momen sederhana ini membantu anak-anak belajar mengendalikan diri dan menghadirkan ketenangan sebelum memulai kegiatan.

Siswa mengikuti kegiatan silent sitting dengan tenang untuk melatih konsentrasi, mengendalikan diri, dan menenangkan hati sebelum memulai kelas saji teh.

Guru juga memperkenalkan cangkir dan piring kecil yang digunakan dalam kelas saji teh. Anak-anak dikenalkan sebutan dalam bahasa Mandarin, yaitu “chá bēi” (茶杯) untuk cangkir teh dan “chá shí pán” (茶食盘) untuk piring kecil. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar etika dan rasa syukur melalui teh, tetapi juga menambah wawasan budaya dan bahasa yang semakin memperkaya pengalaman belajar mereka.

Guru memperkenalkan perlengkapan saji teh beserta sebutannya dalam bahasa Mandarin sebagai bagian dari pembelajaran budaya humanis.

Saat sesi saji teh dimulai, anak-anak tampak bersemangat. Mereka diajarkan tata cara etika memberikan dan menerima teh. Anak yang bertugas menyajikan teh harus menggunakan tangan kanan dan memulai dari teman yang duduk di sebelah kanan. Dengan penuh sopan santun, teh diberikan, dan anak yang menerima maupun yang memberikan saling mengucapkan “gan en” (感恩), sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih.

Siswa mempraktikkan etika menyajikan dan menerima teh dengan penuh hormat, disertai ucapan gan en (感恩) sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih.

Kegiatan ini tidak hanya sebatas minum teh bersama, tetapi juga mengajarkan filosofi mendalam. Anak-anak belajar bahwa memberi dan menerima bukanlah hal yang biasa, melainkan harus dilakukan dengan hormat, cinta kasih, serta rasa syukur. Teh yang disajikan menjadi simbol penghargaan dan penghormatan kepada sesama.

Sepanjang kegiatan, anak-anak terlihat antusias dan bahagia. Mereka merasakan bahwa saji teh bukan sekadar aktivitas, melainkan pengalaman berharga yang menumbuhkan

kesadaran untuk lebih menghargai teman, bersyukur atas apa yang diterima, dan melakukan segala sesuatu dengan sikap yang baik.

Kegiatan saji teh menumbuhkan sikap hormat, rasa syukur, dan kepedulian kepada sesama sejak usia dini.

Melalui program budaya humanis ini, TK Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang berharap anak-anak semakin memahami filosofi Tzu Chi. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter humanis: penuh rasa syukur, hormat kepada sesama, dan cinta kasih yang tulus dalam kehidupan sehari-hari.

Add your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *