Menumbuhkan Kerja Sama dan Resiliensi Anak Lewat Lomba Bakiak

Keceriaan anak-anak terpancar di lapangan sekolah yang hijau, lomba bakiak bukan sekadar adu cepat, melainkan panggung kegembiraan. Meskipun ada potensi langkah yang tidak selaras, senyum lebar dan pose jari mereka membuktikan bahwa semangat kebersamaan sudah menjadikan mereka juara bahkan sebelum garis start dimulai.

Saling memegang pundak menjadi bentuk komunikasi non-verbal anak dalam menjaga keseimbangan tim

Dalam permainan bakiak, keseimbangan adalah hal yang utama. Namun, anak-anak ini mengajarkan kita strategi paling murni yaitu kepercayaan. Perhatikan bagaimana tangan mungil itu memegang erat pundak temannya di depan. Itu bukan sekadar pegangan agar tidak jatuh, melainkan sinyal bahasa tubuh yang berkata, “Aku percaya kamu yang memimpin, dan aku ada di belakangmu.” Saat langkah kaki kiri dan kanan mulai sulit disamakan, dan tubuh mulai goyah ke samping, pegangan di pundak itulah yang menahan mereka untuk tetap berdiri. Kalaupun akhirnya jatuh mereka tertawa bersama.

Anak-anak menunjukkan keceriaan dan rasa percaya diri di tengah kegiatan lomba

​Lomba bakiak menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, ​fokus pada proses,  mencoba, berkoordinasi, dan bangkit kembali saat terjatuh. ​Kehilangan keseimbangan di atas papan bakiak bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Kegagalan yang sesungguhnya adalah jika anak takut dan berhenti mencoba. Ekspresi malu-malu hingga tawa lepas para siswa membuktikan bahwa proses belajar yang dikemas melalui permainan terasa sangat menyenangkan.

Add your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *