Jìng Sī Huādào (靜思花道): Menemukan Ketenangan melalui Seni Merangkai Bunga

Teknik Oshibana diawali dengan menyusun bunga di atas kertas secara rapi sebelum proses penekanan.

Kelas Merangkai Bunga merupakan salah satu kegiatan rutin dalam program Budaya Humanis di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Singkawang yang diselenggarakan setiap tahun bagi seluruh siswa. Kegiatan ini dikenal dengan nama Jìng Sī Huādào (靜思花道), yang tidak hanya berfokus pada keindahan rangkaian bunga, tetapi juga menanamkan nilai ketenangan batin, kesadaran, dan kebijaksanaan dalam setiap prosesnya.

Bunga kering yang telah diproses dengan penuh kesabaran digunakan sebagai hiasan untuk memperindah kata perenungan Master.

Makna dari Jìng Sī sendiri sangat mendalam, di mana 靜 (jìng) berarti hening atau tenang, dan 思 () berarti berpikir atau merenung. Oleh karena itu, sebelum memulai kegiatan, siswa diajak untuk menenangkan hati dan pikiran. Melalui suasana yang kondusif, mereka belajar untuk lebih hadir dalam setiap proses, sehingga kegiatan merangkai bunga tidak hanya menjadi aktivitas seni, tetapi juga sarana melatih kesadaran diri.

Pada pertemuan kali ini, kegiatan dilakukan dengan menggunakan teknik Oshibana, yaitu teknik mengawetkan bunga dengan cara menekan dan mengeringkannya. Istilah ini berasal dari bahasa Jepang, di mana oshi berarti “menekan” dan bana berarti “bunga”. Proses pengeringan dilakukan selama 7 hingga 14 hari hingga bunga kering secara alami dan siap digunakan.

Menariknya, bahan dan alat yang digunakan dalam kegiatan ini sangat sederhana dan mudah ditemukan. Siswa memanfaatkan kertas bekas sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, serta buku tebal untuk membantu proses penekanan bunga. Bunga-bunga yang digunakan pun diambil dari lingkungan sekitar, sehingga secara tidak langsung siswa belajar untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.

Bunga ditekan menggunakan buku agar menghasilkan bentuk pipih yang siap digunakan.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan seni, tetapi juga melatih kreativitas dan ketekunan. Pada jenjang TK hingga SD, hasil bunga kering dimanfaatkan untuk menghias kata-kata perenungan (Jing Si Aphorisms), sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih menarik dan bermakna.

Setelah bunga menjadi pipih, bunga disusun di atas kertas yang diinginkan sebelum proses pengeleman.

Sementara itu, pada jenjang SMP hingga SMA, karya dikembangkan menjadi produk kreatif seperti gantungan kunci dengan memadukan bunga kering, resin, dan katalis. Proses ini memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam mengolah hasil karya menjadi produk bernilai guna sekaligus bernilai estetis.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud pembelajaran holistik yang tidak hanya menekankan aspek keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter. Siswa belajar untuk bersabar dalam proses, teliti dalam berkarya, serta menghargai setiap tahapan yang dilalui.

Sejalan dengan perenungan Master Cheng Yen, “Dengan hati yang tenang, kita dapat melihat keindahan dan makna dalam setiap hal sederhana.” Melalui Jìng Sī Huādào, siswa diajak untuk menemukan ketenangan dalam berkarya, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keindahan sejati lahir dari hati yang damai.

Add your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *